https://jurnal.maziyatulilmi.com/index.php/jippi/issue/feed JURNAL ILMU PENGETAHUAN DAN PENDIDIKAN ISLAM 2026-07-24T01:21:04+00:00 Open Journal Systems <p>Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan islam</p> https://jurnal.maziyatulilmi.com/index.php/jippi/article/view/155 PERENCANAAN STRATEGIS LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM 2026-07-24T00:02:04+00:00 ABDUL MUID jurnal@maziyatulilmi.com Aisyah Zahratun Nafilah asiyahzahrotun@gmail.com <p>Perencanaan strategis merupakan langkah awal yang penting bagi lembaga pendidikan Islam untuk berkembang dan bertahan dalam menghadapi perubahan yang terus-menerus. Lembaga pendidikan Islam harus meningkatkan standar manajemen, tenaga pengajar, fasilitas, dan prosedur pengajaran dan pembelajaran, di samping memberikan pengajaran yang berlandaskan agama agar dapat bersaing dengan lembaga pendidikan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengklarifikasi pentingnya perencanaan strategis dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam, mulai dari pengembangan visi dan misi hingga analisis keadaan internal dan eksternal, penetapan tujuan, serta pelaksanaan dan peninjauan program kerja. Studi ini menggunakan metodologi tinjauan pustaka, dengan mempertimbangkan berbagai sumber, seperti buku, jurnal, dan temuan penelitian tentang manajemen pendidikan Islam. Kesimpulan dari pembahasan menunjukkan bahwa perencanaan strategis dapat membantu lembaga pendidikan Islam dalam mengidentifikasi arah pertumbuhan yang lebih jelas, meningkatkan teknik manajemen institusional untuk meningkatkan efektivitasnya, dan menghasilkan pengajaran berkualitas tinggi. Perencanaan strategis juga membantu dalam mengatasi isu-isu seperti modernisasi, kemajuan teknologi, dan kebutuhan akan pendidikan berkualitas tinggi di masyarakat. Lembaga pendidikan Islam bertujuan untuk menghasilkan lulusan dengan sikap dan nilai-nilai Islami yang kuat di samping kemampuan ilmiah mereka melalui persiapan yang cermat..</p> 2026-07-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 YAYASAN MAZIYATUL ILMI https://jurnal.maziyatulilmi.com/index.php/jippi/article/view/158 PENGELOLAAN SDM LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM 2026-07-24T00:37:29+00:00 ABDUL MUID jurnal@maziyatulilmi.com Widhodho Joyo Kusumo widhodho25@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan merumuskan strategi komprehensif pengelolaan sumber daya manusia (SDM) di lembaga pendidikan Islam di tengah dinamika kebijakan pendidikan modern. Menggunakan metode studi literatur (library research) pendekatan kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran literatur akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembaga pendidikan Islam mutlak bertransformasi dari manajemen tradisional berbasis pengabdian semata menuju tata kelola profesional yang diintegrasikan dengan nilai-nilai profetik. Terdapat tiga pilar utama dalam transformasi ini: (1) restrukturisasi rekrutmen dan kejelasan legalitas status kepegawaian sebagai respons proaktif terhadap kebijakan afirmatif pemerintah, seperti program PPPK; (2) pemenuhan kesejahteraan finansial melalui diversifikasi pendanaan yang berkeadilan; dan (3) penerapan evaluasi kinerja objektif berbasis data (data-driven) menggunakan Key Performance Indicators (KPI).</p> 2026-07-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 YAYASAN MAZIYATUL ILMI https://jurnal.maziyatulilmi.com/index.php/jippi/article/view/161 KONSEP DASAR MANAJEMEN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM 2026-07-24T00:53:08+00:00 ABDUL MUID jurnal@maziyatulilmi.com Abdul Karim aimaimaim2004@gmail.com <p>Lembaga pendidikan Islam memiliki posisi strategis dalam membentuk sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten secara intelektual, tetapi juga berkarakter Islami. Namun demikian, dalam praktiknya masih ditemukan kesenjangan antara penerapan prinsip-prinsip manajemen modern dengan nilai keislaman di berbagai lembaga pendidikan Islam. Sebagian lembaga cenderung mengadopsi manajemen konvensional secara parsial tanpa integrasi yang utuh dengan nilai Islam, sehingga berdampak pada kurang optimalnya pencapaian tujuan pendidikan yang holistik. Kajian ini bertujuan untuk mengkaji dan merumuskan konsep dasar manajemen lembaga pendidikan Islam secara komprehensif yang mengintegrasikan fungsi manajemen modern dengan nilai Islam. Dengan demikian, penerapan manajemen yang terintegrasi antara prinsip modern dan nilai Islam diharapkan mampu meningkatkan kualitas, daya saing, serta keberlanjutan lembaga pendidikan Islam di tengah tantangan global.</p> 2026-07-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 YAYASAN MAZIYATUL ILMI https://jurnal.maziyatulilmi.com/index.php/jippi/article/view/164 PENGEMBANGAN MUTU DAN INOVASI PENDIDIKAN ISLAM 2026-07-24T01:16:41+00:00 ABDUL MUID Editor jurnal@maziyatulilmi.com Putri Jingga Sella Deliana jinggadeliana@gmail.com <p>Artikel ini mempunyai tujuan mempelajari konsep tentang inovasi dan pengembangan kualitas dalam pendidikan Islam, dengan penekanan khusus pada Pendidikan Agama Islam (PAI). Di tengah perubahan dan disrupsi teknologi yang terjadi di seluruh dunia, institusi pendidikan Islam dipaksa untuk merevitalisasi kualitas dan pendekatan pembelajaran mereka. Pemakaian pendekatan tinjauan pustaka kualitatif, menjadikan kajian ini akan membahas empat pilar penting: definisi kualitas dalam pendidikan Islam, upaya strategis guna mendongkrak kualitas ini, landasan teoritis inovasi dalam pendidikan Islam, dan implementasi konkret inovasi pendidikan dalam mata pelajaran PAI. Hasilnya mencerminkan bahwa manajemen kualitas didasarkan pada prinsip-prinsip Islam 'itqan' dan 'ihsan' dan dikombinasikan dengan sistem manajemen modern dan teknologi.</p> 2026-07-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 YAYASAN MAZIYATUL ILMI https://jurnal.maziyatulilmi.com/index.php/jippi/article/view/156 EVALUASI KINERJA, MUTU, KUALITAS PENDIDIKAN 2026-07-24T00:23:07+00:00 ABDUL MUID jurnal@maziyatulilmi.com Suci Indra Ilmiyah jurnal@maziyatulilmi.com <p>Penilaian terhadap kinerja dan mutu merupakan aspek krusial dalam dunia pendidikan karena melalui proses tersebut suatu institusi dapat mengetahui sejauh mana program yang dijalankan berhasil. Evaluasi tidak hanya menilai capaian pembelajaran akhir, tetapi juga menelaah kualitas tenaga pengajar, tata kelola sekolah, fasilitas, serta layanan pendidikan secara menyeluruh. Di era pendidikan modern, evaluasi dipandang sebagai langkah penting untuk meningkatkan mutu agar lembaga pendidikan mampu bersaing dan memenuhi tuntutan masyarakat. Penelitian ini bertujuan menjelaskan peran evaluasi kinerja dan mutu dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi mutu di lingkungan sekolah. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Data dikumpulkan dari berbagai sumber, seperti buku, jurnal, artikel, dan referensi yang berkaitan dengan evaluasi pendidikan serta manajemen mutu. Hasil kajian menunjukkan bahwa evaluasi kinerja dan mutu berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Pelaksanaan evaluasi secara berkala membantu sekolah mengenali kelemahan yang ada sehingga dapat melakukan perbaikan secara berkelanjutan. Selain itu, evaluasi turut mendorong profesionalisme guru, penyempurnaan proses pembelajaran, penguatan disiplin kerja, serta terciptanya layanan pendidikan yang lebih efektif dan efisien. Dengan evaluasi yang dilaksanakan secara baik, lembaga pendidikan memiliki peluang yang lebih besar untuk berkembang dan menghasilkan peserta didik yang berkualitas, baik dari sisi akademik maupun karakter.</p> 2026-07-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 YAYASAN MAZIYATUL ILMI https://jurnal.maziyatulilmi.com/index.php/jippi/article/view/159 FUNGSI MANAJEMEN PENGGERAKAN DAN PENGAWASAN 2026-07-24T00:42:59+00:00 ABDUL MUID jurnal@maziyatulilmi.com Muhammad Rifqi Ramadhan jurnal@maziyatulilmi.com <p>Management functions are essential to the success of any organization, including Islamic educational institutions. Among these, actuating and controlling are two key functions that play a significant role in carrying out organizational activities. Actuating functions to direct, motivate, and coordinate all human resources to carry out tasks in accordance with predetermined goals. Meanwhile, controlling aims to ensure that the implementation of activities proceeds according to plan and to take corrective actions in the event of deviations. This article aims to explain the definition, process, benefits, and the relationship between the actuating and controlling functions based on a review of management theory. The results of the study indicate that these two functions are interrelated in creating organizational effectiveness and efficiency. Without proper actuating, planning cannot be implemented optimally, whereas controlling helps ensure that activities remain aligned with the established objectives. Management functions are essential to the success of any organization, including Islamic educational institutions. Among these, actuating and controlling are two key functions that play a significant role in carrying out organizational activities.</p> 2026-07-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 YAYASAN MAZIYATUL ILMI https://jurnal.maziyatulilmi.com/index.php/jippi/article/view/162 Analisis dan Perumusan Visi, Misi, dan Tujuan 2026-07-24T00:58:43+00:00 ABDUL MUID jurnal@maziyatulilmi.com Salfa Zainniyah Firdausy salfazf85@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan merumuskan visi, misi, dan tujuan lembaga pendidikan Islam dari perspektif manajemen strategis kontemporer. Visi, misi, dan tujuan berfungsi sebagai landasan fundamental bagi pengelolaan lembaga pendidikan, yang membentuk arah pengembangan jangka panjang, identitas kelembagaan, serta strategi peningkatan kualitasnya. Melalui pendekatan kualitatif berbasis literatur, penelitian ini mengkaji berbagai sumber literatur tentang manajemen strategis dan pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perumusan visi, misi, dan tujuan lembaga pendidikan Islam harus mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan tantangan global saat ini, seperti disrupsi teknologi, kemerosotan moral, kebutuhan akan keterampilan abad ke-21 (berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi), serta persaingan global yang terus menjunjung tinggi etika luhur. Penelitian ini mengidentifikasi 11 unsur kunci dalam merumuskan visi dan misi pendidikan Islam, dengan menekankan keseimbangan komprehensif antara penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta pengembangan karakter dan spiritualitas. Kesimpulannya, visi, misi, dan tujuan yang dirumuskan secara partisipatif, terukur, dan realistis, serta berfokus pada keseimbangan antara kesuksesan duniawi dan spiritual, telah terbukti meningkatkan efektivitas lembaga pendidikan Islam dalam mencapai keunggulan kompetitif serta keberkahan institusional.</p> <p>&nbsp;</p> 2026-07-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 YAYASAN MAZIYATUL ILMI https://jurnal.maziyatulilmi.com/index.php/jippi/article/view/165 STRUKTUR ORGANISASI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM 2026-07-24T01:21:04+00:00 ABDUL MUID jurnal@maziyatulilmi.com Najahatin Ni’mah idohahnajahtin@gmail.com <p>Struktur organisasi lembaga pendidikan Islam mencerminkan hierarki yang terintegrasi antara kepemimpinan spiritual, administratif, dan akademik dalam mendukung misi pendidikan berbasis nilai-nilai Islam. Pada tingkat puncak terdapat yayasan atau majelis pendidikan sebagai pemilik dan pengawas strategis, kemudian kepala lembaga (rektor atau kepala madrasah) yang bertanggung jawab terhadap kebijakan umum, pengelolaan sumber daya, serta pengawasan operasional. Struktur tersebut selanjutnya terbagi ke dalam unit-unit fungsional, seperti wakil kepala bidang kurikulum, sarana dan prasarana, kemahasiswaan, serta hubungan masyarakat yang dikoordinasikan oleh dewan pengurus atau badan akreditasi internal.</p> <p>Lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam menerapkan model organisasi tersebut dengan berbagai penyesuaian, termasuk keterlibatan kiai atau ulama sebagai penasihat keagamaan untuk memastikan kesesuaian dengan prinsip Islam dan nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Struktur organisasi yang baik mampu menciptakan efektivitas manajemen, memperjelas pembagian tugas, meningkatkan koordinasi, serta menjaga keseimbangan antara pengembangan ilmu agama dan ilmu umum dalam mewujudkan pendidikan Islam yang holistik</p> 2026-07-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 YAYASAN MAZIYATUL ILMI https://jurnal.maziyatulilmi.com/index.php/jippi/article/view/157 FUNGSI MANAJEMEN: PERENCANAAN DAN PENGORGANISASIAN 2026-07-24T00:31:16+00:00 ABDUL MUID jurnal@maziyatulilmi.com Yuni Tri Astutik jurnal@maziyatulilmi.com <p>Fungsi manajemen merupakan dasar bagi kelancaran dan keberhasilan setiap organisasi, baik dalam konteks bisnis, pendidikan, maupun pelayanan publik. Dua fungsi utama yang menjadi fokus dalam artikel ini adalah perencanaan (planning) dan pengorganisasian (organizing). Penelitian ini bertujuan menguraikan pengertian, proses, pentingnya, serta hubungan timbal balik antara kedua fungsi tersebut berdasarkan kajian literatur dan penelitian terkini. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan menganalisis berbagai sumber ilmiah untuk membandingkan pandangan para ahli dan temuan empiris. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun dalam beberapa konteks, khususnya pendidikan, perencanaan dan pengorganisasian secara parsial tidak selalu berpengaruh signifikan terhadap kinerja, kedua fungsi tersebut tetap menjadi landasan utama dalam mengarahkan dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya organisasi guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Selain itu, penerapan kedua fungsi manajemen tersebut berkontribusi terhadap peningkatan efisiensi operasional, pengurangan pemborosan, serta penguatan kemampuan organisasi dalam beradaptasi menghadapi perubahan lingkungan yang semakin kompleks dan kompetitif.</p> <p>Kata Kunci: fungsi manajemen, perencanaan, pengorganisasian, kinerja organisasi, efisiensi operasional, sumber daya organisasi.</p> <p>ABSTRACT</p> <p>Management functions are the foundation for the effective operation and success of every organization, including business, education, and public service institutions. This article focuses on two core management functions: planning and organizing. It aims to examine their definitions, processes, significance, and interrelationship through a review of relevant literature and recent studies. The research employs a literature review method by analyzing various scientific sources to compare theoretical perspectives and empirical findings. The results indicate that although planning and organizing do not always have a significant direct effect on organizational performance in certain contexts, particularly in education, both functions remain essential for directing and optimizing organizational resources to achieve predetermined goals. Furthermore, the effective implementation of these functions contributes to greater operational efficiency, reduced waste, and enhanced organizational adaptability in responding to increasingly complex and competitive environmental changes</p> 2026-07-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 YAYASAN MAZIYATUL ILMI https://jurnal.maziyatulilmi.com/index.php/jippi/article/view/160 KEPEMIMPINAN DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM 2026-07-24T00:47:59+00:00 ABDUL MUID jurnal@maziyatulilmi.com Putri Nabila Aulia abelaulo840@gmail.com <p>Kepemimpinan dalam institusi pendidikan islam ialah instrumen kritis yang mengintegrasikan aspek manajerial modern dengan nilai-nilai profetik untuk mencapai tujuan pendidikan holistik. Secara fundamental, kepemimpinan ini berakar pada prinsip tauhid yang memandang otoritas sebagai amanah ilahiyah yang harus dipertanggungjawabkan, baik secara organisasional maupun spiritual. Dalam praktiknya, pemimpin institusi pendidikan islam harus mampu menjalankan peran sebagai penggerak perubahan melalui gaya kepemimpinan transformasional, sekaligus menjadi teladan moral (uswah hasanah) dengan menginternalisasi sifat shiddiq, amanah, tablig, dan fathanah. Fokus utama dari dinamika ini terletak pada kemampuan pemimpin dalam membangun budaya organisasi yang berbasis pada semangat ukhuwah dan prinsip syura (musyawarah) guna menghadapi tantangan globalisasi dan disrupsi digital. Dengan menyelaraskan antara profesionalitas kerja, akuntabilitas sosial, dan kedalaman spiritual, kepemimpinan dalam Institusi pendidikan berbasis Islam sebenarnya punya tanggung jawab yang lebih luas, bukan cuma fokus pada keunggulan akademis semata, melainkan pada pembentukan karakter peserta didik yang berlandaskan akhlakul karimah demi kemaslahatan umat.<br>Kata Kunci: Lembaga Pendidikan Islam, Kepemimpinan Transformasional.<br>PENDAHULUAN <br>Di tengah gelombang transformasi digital seperti sekarang, institusi pendidikan Islam dihadapkan pada persoalan yang kian rumit. Berbagai hambatan baru muncul, mulai dari pergeseran paradigma belajar hingga tuntutan kualitas lulusan yang berdaya saing global. Keberhasilan suatu institusi pendidikan dalam merespon dinamika ini tidak terlepas dari peran strategis kepemimpinan yang diterapkan di dalamnya. Kepemimpinan bukan sekedar struktur formal, melainkan ruh yang menggerakkan semua elemen di dalam organisasi demi mewujudkan visi dan misi yang telah disepakati bersama. Dalam konteks pendidikan islam, kepemimpinan memiliki dimensi ganda, yakni tanggung jawab moral spiritual yang berlandaskan pada nilai-nilai profetik.<br>Signifikansi kepemimpinan dalam institusi pendidikan islam terletak pada kemampuannya mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama dengan tuntunan manajemen modern. Pemimpin pendidikan islam dituntut untuk tidak hanya cakap dalam mengelola sumber daya manusia dan keuangan, tetapi juga harus menjadi teladan (uswah) dalam menginternalisasi karakter islam kepada seluruh warga sekolah. Ketidakmampuan pemimpin dalam beradaptasi dengan perubahan zaman dapat mengakibatkan institusi pendidikan kehilangan relevansi serta kepercayaan dari masyarakat. Oleh karena itu, penguatan kompetensi manajerial dan kepemimpinan visioner menjadi kebutuhan mendesak bagi kepala madrasah maupun pengasuh pondok pesantren. <br>Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, gaya kepemimpinan transformasional mulai banyak diadopsi dalam lingkungan pendidikan islam. Gaya ini dinilai efektif karena menekankan pada perubahan pola pikir dan motivasi intrinsik bawahan untuk melampaui standar yang ada. Pemimpin transformasional dalam lembaga islam mampu menciptakan iklim kerja yang kolaboratif, inovatif, dan inklusif, tanpa meninggalkan identitas keislaman sebagai fondasi utamanya. Riset terbaru menunjukkan bahwa efektivitas kepemimpinan yang adaptif berbanding lurus dengan peningkatan mutu akademik dan indeks karakter siswa. <br>Namun, dalam praktiknya masih ditemukan berbagai kendali dalam implementasi kepemimpinan yang ideal di institusi pendidikan islam. Beberapa masalah klasik seperti ototritarianisme, keterbatasan sarana prasarana, hingga resistensi terhadap inovasi teknologi masih menjadi penghambat utama. Tantangan ini semakin nyata ketika institusi pendidikan harus menghadapi era disrupsi yang menuntut kecepatan dalam pengambilan keputusan. Tanpa adanya kepemimpinan yang lincah (agile leadership), institusi pendidikan islam akan sulit untuk mempertahankan eksistensinya di tengah persaingan institusi pendidikan umum yang semakin ketat. <br>Fokus utama dari kajian ini adalah untuk menggali lebih jauh tentang bentuk gaya kepemimpinan yang paling cocok untuk diimplementasikan di lingkungan lembaga pendidikan Islam saat ini. Fokus utama akan diarahkan pada bagaimana nilai-nilai kepemimpinan islam tradisional dapat dipadukan dengan prinsip manajemen modern untuk menciptakan keungggulan kompetitif. Dengan memahami dinamika kepemimpinan ini diharapkan pengelola lembaga pendidikan islam dapat merumuskan strategi pengembangan institusi yang lebih efektif, efisien, dan tetap berpijak pada nilai-nilai qurani.<br>METODE PENELITIAN <br>Pendekatan yang diterapkan dalam kajian ini berbasis pada studi literatur atau riset kepustakaan (library research).Secara prosedural, metode ini berfokus pada pengumpulan, telaah, dan analisis mendalam terhadap data sekunder yang bersumber dari berbagai literatur ilmiah, seperti buku teks, artikel jurnal,dan dokumen akademik yang memiliki relevansi kuat dengan objek penelitian. Dengan mengandalkan kutipan dari berbagai artikel ilmiah dan jurnal bereputasi, metode ini memungkinkan peneliti untuk memetakan perkembangan pemikiran, membandingkan berbagai perspektif ahli, dan menarik kesimpulan yang valid secara akademis melalui teknik analisis isi (content analysis) yang sistematis.<br>HASIL DAN PEMBAHASAN<br>A. Pengertian Kepemimpinan<br>Secara etimologi, istilah "kepemimpinan" diserap dari kata dalam bahasa Inggris, yaitu "leadership", yang akar katanya adalah "leader". Jika seorang "pemimpin" menunjuk pada sosok individu yang mengarahkan, maka "kepemimpinan" lebih mengarah pada kedudukan atau peran yang dijalankannya. Beragam studi tentang kepemimpinan telah dilaksanakan di sejumlah bidang penelitian, termasuk dalam konteks institusi pendidikan Islam. Sebagai hasilnya, konsep dan definisi kepemimpinan bervariasi dan umumnya didasarkan pada sudut pandang serta fenomena yang diobservasi oleh para peneliti.<br>Hadari Nawawi berargumen bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan untuk menginspirasi, memotivasi, dan memengaruhi individu sehingga mereka mau mengambil tindakan yang ditujukan untuk mencapai tujuan dengan membuat keputusan berani mengenai aktivitas yang akan dilaksanakan. <br>Suharsimi Arikunto: Kepemimpinan merupakan usaha untuk memengaruhi individu dalam suatu kelompok agar mereka dengan rela memberikan seluruh potensi mereka demi meraih target atau sasaran yang telah disepakati bersama oleh kelompok tersebut. <br>Imam Machali menjelaskan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk menggerakkan, memengaruhi, memotivasi, menginspirasi, membimbing, memberikan nasihat, mendukung, mendampingi, dan melatih orang, memberikan arahan, mengeluarkan perintah, melarang tindakan tertentu, dan (jika perlu) bahkan memberikan hukuman, dengan tujuan memastikan bahwa orang-orang, sebagai bagian dari suatu organisasi, bersedia mampu berkolaborasi secara produktif dan tepat guna guna mewujudkan target mereka sendiri maupun tujuan organisasi.<br>Muwahid Shulhan menjelaskan kepemimpinan dalam konteks lembaga pendidikan Islam sebagai kompetensi dalam mengarahkan, memotivasi, mengatur, maupun memengaruhi personel serta semua tenaga pendidik dan kependidikan di lingkungan sekolah maupun madrasah agar dimanfaatkan secara maksimal agar target-target yang sudah direncanakan dapat tercapai dengan baik. <br>Sebaliknya, Wahjosumijo menerangkan posisi kepala madrasah sejatinya adalah seorang edukator yang diamanahi amanat besar untuk memimpin dan mengarahkan madrasah, yang notabene menjadi ruang berlangsungnya interaksi antara seorang guru dan murid. <br>Berdasarkan pengertian kepemimpinan, dapat disimpulkan bahwa kegiatan kepemimpinan adalah usaha kolektif untuk berpikir, berbuat, serta menyelesaikan berbagai kendala yang dialami suatu organisasi secara serempak, sehingga target yang sudah ditetapkan bisa tercapai bagus. Dalam konteks institusi pendidikan Islam, kepala sekolah atau direktur madrasah melaksanakan peran kepemimpinan, di mana semua anggota dan pihak terkait berpartisipasi dalam pelaksanaan fungsi dan peran kepemimpinan untuk mencapai tujuan bersama.<br>B. Konsep Kepemimpinan Dalam Islam<br>Bahwa di dalam setiap dinamika organisasi, kepemimpinan memang menjadi hal yang harus ada. Dimana sebuah komunitas atau kelompok, khususnya disebuah institusi pendidikan islam, yang hanya bisa berjalan berkat arahan dari seorang pemimpin. Pemimpin ialah individu yang menentukan visi serta sasaran. Al-Qur'an sendiri menguraikan konsep kepemimpinan melalui variasi terminologi yang cukup beragam, di antaranya adalah penggunaan kata khalifah, imam, serta ulil amri.<br>Merujuk pada sebutan yang pertama, yaitu khalifah. Secara tekstual, kata khalifah memiliki arti yang berhubungan dengan kata kerja seperti mengganti, meninggalkan, atau istilah seperti perwakilan atau penerus, tetapi ada juga arti yang dimana menuju kepada penyimpangan, seperti perbedaan pendapat, pelanggaran komitmen, atau keragaman. Menurut penafsiran dari hamka dan tabataba’i , allah telah menjadikan manusia sebagai pemimpin dibumi untuk melaksanakan sebuah syariah serta merawat bumi ini agar terhindar dari kerusakan akibat nafsu keserakahan manusia. Hal ini dikarenakan manusia dikaruniai akal budi untuk senantiasa bersyukur, berefleksi secara mendalam, serta mampu menangkap makna sejati dari eksistensi mereka sendiri mengenai siapa Penciptanya, dan apa tujuan utama mereka dihadirkan di dunia ini.<br>Beralih pada sebutan yang kedua, yaitu imam. Di dalam Al-Qur'an, kata imam ini sebenarnya menyimpan makna dan kandungan arti yang cukup variatif, seperti nabi, petunjuk, kitab suci, jalan yang benar, dan pemimpin. Pengertian imam disini mencakup sebuah tanggung jawab untuk mengajak orang lain menuju kebaikan sambil juga melaksanakannya sendiri. Serta membantu individu yang lemah, agar selaras dengan ketentuan dan syariat Allah, sangat dianjurkan untuk diterapkan.<br>Selanjutnya untuk kosakata yang ketiga, yakni ulil amri. Secara linguistik ulil amri berarti memerintah atau berlawanan dengan melarang dan dalam pengertian teknis, merujuk pada individu yang memiliki kekuasaan dan dapat diberikan nasihat. Jika merujuk pada pandangan Jabir bin Abdullah, Mujahid, Hasan Al-Bashri, Abu ‘Aliyah, Atha’ bin Ribah, Ibn Abbas, serta Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya, makna kata tersebut mengarah pada ahli al-qur’an, yang diartikan sebagai kalangan ilmuwan. Kesimpulan yang sama juga diungkapkan oleh malik serta dhahhaq. Akan tetapi, apabila melihat perspektif dari Ibn Kisan, yang dimaksud dengan ulil amri ialah para cendikiawan yang memiliki akal serta pemahaman. Dan bidhawi menerangkan dalam penjelasannya bahwa ulil amri merujuk kepada amir (pemimpin) pasukan di zaman nabi muhammad saw. Setelah meninggalnya nabi, fungsi ulil amri berpindah kepada para khalifah dan komandan tertinggi militer.<br>Macam-Macam Gaya Kepemimpinan <br>Kepemimpinan memiliki andil yang sangat krusial dalam merumuskan efektivitas dan arah lembaga pendidikan islam, seperti halnya pesantren, madrasah, dan sekolah-sekolah berbasis nilai islam. Kepala lembaga tidak hanya berfungsi mengelola administrasi, tetapi juga membentuk sebuah visi, budaya organisasi, dan kualitas proses pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai islam. Oleh karena itu, pemahaman mengenai berbagai macam gaya kepemimpinan sangat diperlukan untuk menganalisis pola kepemimpinan yang sesuai dengan konteks lembaga pendidikan islam. <br>1. Kepemimpinan otoriter / otokratif<br>Sri dkk. (2022) dalam karyanya mengutip penjelasan dari Mulyadi dan Widi Winarso mengenai karakteristik gaya kepemimpinan otokratis. Model ini menempatkan figur pemimpin sebagai poros utama yang mendominasi seluruh arah kebijakan serta pengambilan keputusan. Di sini, otoritas yang dimiliki atasan bersifat absolut, sehingga ruang bagi anggota untuk memberikan masukan menjadi sangat terbatas. Pola manajerial seperti ini umumnya jamak ditemukan pada lingkungan organisasi militer, di mana kendali pimpinan terpusat secara mutlak dan terdapat batasan hierarki yang sangat kaku antara atasan dengan bawahan.<br>Model otokratis ini identik dengan pemberian instruksi yang sangat kaku dan terperinci kepada para anggota saat mengeksekusi pekerjaan mereka. Melalui prinsip dasar tersebut, seorang pemimpin yang otoriter memiliki keyakinan penuh bahwa pemikiran atau gagasannyalah yang paling benar. Dampaknya, kebijakan tersebut wajib dijalankan secara konsisten demi mengejar target organisasi.<br>2. Model kepemimpinan partisipatif atau demokratis<br>Gaya kepemimpinan partisipatif, yang juga kerap diidentikkan dengan gaya kepemimpinan demokratis, merupakan sebuah pendekatan di mana seorang manajer atau atasan secara aktif melibatkan para karyawan dalam proses perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan. Dalam pandangan seorang pemimpin yang demokratis, esensi kepemimpinan bukanlah sebuah bentuk kediktatoran yang kaku, melainkan sebuah fungsi manajerial yang berjalan selaras di dalam kelompoknya.<br>Hubungan antar anggota tim bukanlah hubungan antara pimpinan dan yang dipimpin, melainkan seperti hubungan saudara. Seorang pemimpin demokratis senantiasa berusaha mendorong anggota timnya guna membangun ritme kerja yang efisien dalam mengejar target bersama yang telah ditetapkan. Pedampingan serta usaha yang dilakukan selalu berlandaskan pada kepentingan serta kebutuhan komunitasnya dan juga mempertimbangkan kapasitas serta potensi kelompok itu. <br>3. Model kepemimpinan laissez-faire<br>Sebagai antitesis dari model otokratis, gaya kepemimpinan laissez faire menyajikan pendekatan yang bertolak belakang. Kalau pemimpin otokratis sering kali menguasai organisasi, pemimpin laissez faire menyerahkan sepenuhnya kewenangan pangambilan keputusan kepada anggota atau bawahannya. Bawahan dapat merancang usulan mereka sendiri, menyelesaikan masalah secara mandiri, dan sangat sedikit jika ada instruksi yang disampaikan.<br>Seorang pemimpin laissez faire menganggap dirinya sebagai penghubung. Ini berlandaskan pada anggapan bahwa anggota organisasi telah mengerti semua ketentuan yang ada dan cukup dewasa untuk mengikutinya demi meraih tujuan. Individu dengan jenis kepemimpinan ini biasanya bersikap pasif dan membiarkan organisasi beroperasi dengan ritmenya sendiri, tanpa intervensi yang signifikan dalam arah dan kemajuan organisasi.<br>4. Model kepemimpinan transformatif<br>Gaya kepemimpinan transformasional merujuk pada kapasitas seorang pemimpin untuk memanfaatkan sumber daya organisasi secara maksimal bersama dan/atau melalui orang lain untuk demi merealisasikan target yang sudah ditetapkan sebelumnya. Cakupan aset tersebut meliputi sektor sumber daya manusia, infrastruktur, dana, dan faktor luar.<br>Gaya kepemimpinan transformasional ditandai oleh keterbukaan dan kerja sama. Karakteristik utama yang melekat pada gaya kepemimpinan transformasional meliputi:<br>a. Titik temu yang paling mendasar terletak pada pergerakan organisasi yang tidak didefinisikan oleh aturan birokrasi yang kaku, melainkan digerakkan oleh komitmen terhadap visi bersama.<br>b. Para peserta menempatkan kepentingan organisasi diatas kepentingan individu mereka.<br>c. Terwujudnya partisipasi nyata dan kontribusi aktif dari seluruh anggota maupun elemen yang berada di bawah arahan mereka.<br>5. Kepemimpinan paternalistis<br>Gaya paternalistis menempatkan pemimpin sebagai figur orangtua yang bertanggung jawab atas kesejahteraan, perlindungan, dan ketaatan bawahannya. Dalam lembaga pendidikan islam, gaya ini bisa menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat, dimana guru merasa dilindungi dan di hargai seperti anak dalam satu keluarga besar, namun jika berlebihan, bisa menumbuhkan ketergantungan, menurunkan kemandirian, dan memperkuat kultur kepatuhan buta. <br>Ciri gaya ini adalah pemimpin aksesibel dan dekat dengan bawahan, menekankan kepatuhan dan loyalitas, serta menjadi pelindung bagi kepentingan rata-rata bawahan, sehingga tujuannya baik namun jika tidak diimbangi profesionalisme bisa menurunkan kualitas manajemen lembaga.<br>6. Kepemimpinan militeristis<br>Dalam menghadapi kondisi krusial yang sarat akan risiko tinggi, model kepemimpinan militeristik cenderung mengambil kebijakan secara instan tanpa memprioritaskan masukan dari para anggotanya. Kendati demikian, seorang figur pemimpin militer yang kompeten dituntut mampu merumuskan urgensi masalah melalui pertanyaan-pertanyaan strategis guna melahirkan keputusan tepat yang dapat dieksekusi secara nyata. Beberapa karakteristik yang melekat pada tipe kepemimpinan militeristik ini di antaranya:<br>a. Ketergantungan yang besar pada sistem komando, sikap tegas, dan dominasi otoritas, ketidakfleksibelan, serta seringkali minimnya kehati-hatian.<br>b. Mengharapkan kepatuhan penuh dari anggota tim.<br>c. Sangat menekankan pada ritual seremonial, formalitas, dan simbol-simbol kekuasaan yang berlebihan.<br>d. Meminta disiplin yang tegas dan kaku dari para staf.<br>e. Dan juga tidak menghiraukan nasihat, saran, ide, atau kritik dari orang yang lebih rendah.</p> <p><br>KESIMPULAN <br>Ditinjau dari aspek etimologi, istilah kepemimpinan berakar dari kata "pimpin" yang mengandung makna menuntun atau membimbing. Sementara itu secara operasional, terdapat konsensus di antara para pakar bahwa kepemimpinan esensinya merupakan kapasitas atau upaya individu dalam menggerakkan, memotivasi, sekaligus mengarahkan pihak lain secara kolektif demi mewujudkan target bersama secara efisien. Apabila ditarik ke dalam ranah pendidikan Islam, fungsi ini dipegang oleh kepala sekolah atau madrasah guna menyelaraskan seluruh elemen sekolah, sehingga kapasitas sumber daya manusia yang ada dapat dioptimalkan secara menyeluruh.<br>Kepemimpinan merupakan unsur vital dalam kehidupan masyarakat islam yang memberikan visi dan arah yang jelas. Di dalam al-qur’an, konsep ini diungkapkan melalui tiga istilah utama: khalifah (pengganti atau wakil di bumi untuk menegakkan syariat), imam (pemimpin yang menjadi teladan dan membimbing pada kebajikan), serta ulil amri (pemegang kekuasaan yang berasal dari kalangan ahli ilmu atau pemimpin militer yang harus ditaati selama sejalan dengan perintah allah).<br>Gaya kepemimpinan dalam lembaga pendidikan islam bervariasi mulai dari tipe otoriter yang memusatkan seluruh keputusan pada pemimpin demi ketegasan, hingga tipe partisipatif yang mengedepankan musyawarah dan kolaborasi tim, terdapat pula gaya laissez faire yang memberikan kebebasan penuh pada bawahan, serta gaya transformatif yang menitikberatkan pada optimalisasi serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui kesadaran bersama. Selain itu, dikenal gaya paternalistik yang menempatkan pemimpin sebagai figur orang tua yang melindungi, serta gaya militeristis yang sangat bergantung pada sistem komando, disiplin kaku, dan formalitas yang tinggi dalam menjalankan organisasi.</p> 2026-07-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 YAYASAN MAZIYATUL ILMI https://jurnal.maziyatulilmi.com/index.php/jippi/article/view/163 PENGELOLAAN KEUANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM 2026-07-24T01:04:48+00:00 ABDUL MUID jurnal@maziyatulilmi.com Amanda Rahmawati ar8507782@gmail.com <p>Pengelolaan keuangan merupakan bagian penting dalam penyelenggaraan lembaga pendidikan Islam. Keuangan menjadi faktor utama yang menentukan keberlangsungan program pendidikan, pengembangan sarana dan prasarana, peningkatan kualitas tenaga pendidik, serta pelayanan terhadap peserta didik. Penelitian ini bertujuan menganalisis sistem pengelolaan keuangan pada lembaga pendidikan Islam, mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga evaluasi keuangan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui studi pustaka dan analisis berbagai sumber ilmiah yang berkaitan dengan manajemen keuangan pendidikan Islam.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan yang dilaksanakan secara transparan, akuntabel, efektif, efisien, dan berdasarkan prinsip syariah mampu meningkatkan mutu pendidikan serta kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan Islam. Keterlibatan seluruh komponen lembaga, seperti kepala sekolah, bendahara, yayasan, guru, dan masyarakat, sangat memengaruhi keberhasilan pengelolaan keuangan. Dalam praktiknya, lembaga pendidikan Islam masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan dana, rendahnya kompetensi sumber daya manusia dalam bidang manajemen keuangan, serta kurang optimalnya sistem administrasi keuangan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan tata kelola keuangan berbasis profesionalisme dan pemanfaatan teknologi agar lembaga pendidikan Islam mampu berkembang secara berkelanjutan di era modern.</p> 2026-07-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 YAYASAN MAZIYATUL ILMI